BERILAH KEBEBASAN BELAJAR

Oleh: Moh. Syarif Hidayatullah<marquee>Mahasiswa Fakultas Dakwah Prodi KPI Asal Palembang </marquee>

KETIKA diawal saya menulis, saya belum tahu apakah yang akan saya tulis ini benar atau tidak, terlepas dari itu semua saya akan tetap memberanikan diri untuk menyampaikan apa yang ada dalam hati saya, yang sudah terlalu lama menahannya. Beberapa waktu yang lalu Menteri Pendidikan Bpk. Nadiem Makarim pernah mengeluarkan statement dalam sebuah pidatonya “Berikanlah kebebasan belajar kepada mahasiswa” . Ketika saya mendengar kalimat ini, saya kemudian sadar dan berfikir bahwasanya jika mahasiswa tidak di berikan kebebasan dalam belajar maka mahasiswa sendiri tidak akan bisa berkembang. dan beberapa waktu yang lalu ketika saya menghadiri acara kongres AMDIN (Asosiasi Mahasiswa Dakwah Indonesia) di Pekalongan, Jawa Timur. Rektor IAIN PEKALONGAN mengatakan bahwa perbedaan mahasiswa dengan siswa berada dalam tingkat pembelajaran, yang mana jikalau siswa belajar di dalam kelas itu 100% mendengarkan apa yang dikatakan oleh guru, maka berbeda lagi dengan mahasiswa, mahasiswa belajar di bangku kuliah (di dalam kelas) hanya 30% yaitu teori dan 70% nya didapatkan di luar kelas, yang biasa kita kenal dengan praktek dengan jurusan yang kita tekuni saat ini. Bagaimana mungkin ketika kita terjun kedalam sosial masyarakat, tanpa kita mendalami bidang yang kita tekuni saat ini. Ketika mahasiswa ingin menyampaikan aspirasinya, terkadang mahasiswa mendapat tekanan dan mendapat kritikan, apa yang ingin dilakukan mahasiswa sendiri demi mengembangkan minat dan bakat nya dan demi kemajuan bersama terkadang kita tidak mendapatkan dukungan yang kita inginkan, dan jelas itu akan menghambat kemajuan dari mahasiswa itu sendiri.

Seperti yang tertera didalam buku Muslim Visioner bahwasanya, kepintaran seseorang atau biasa kita sebut dengan intelektual setiap individu itu berbeda-beda, ada Intelektual Personal, Antarpersonal, Music, Logika-Matematic dan sebagainya. Dalam hal ini kita bisa mengetahui bahwasanya setiap individu itu mempunyai kelebihan dan kelemahan masing-masing, dan ketika seseorang mengetahui bakat dan minat mereka, maka itu harus dikembangkan. Namun, disisi lain ini merupakan titik kelemahan kita saat ini. Disaat kita mulai mengetahui kelebihan dan kemampuan kita, kita tidak mendapatkan wadah yang tepat untuk mengembangkan bakat yang kita miliki, dan ketika kita beraspirasi kurang nya tanggapan serius dari pihak kampus sendiri, sehingga membuat kita kalah jauh dengan pendidikan yang ada di luar. Jangan kan untuk hal-hal yang besar, jikalau kita tidak mulai dari hal-hal yang kecil maka semua itu tidak akan pernah berubah.

Jikalau setiap dari kita tidak mempunyai intelektual, maka pendidikan kita akan kalah dengan pendidikan yang ada di luar negeri, mengapa demikian? Jawabannya sudah jelas, bahwasanya pendidikan yang ada di luar seperti di negara-negara Eropa sana, pendidikan mereka sudah diatur sejak dini dari tingkat yang paling bawah sampai tingkat perkuliahan, sesuai dengan minat dan bakat . Dan dalam pembelajaran mereka pun tidak selalu menggunakan teori, melainkan lebih sering pada praktek (terjun ke lapangan) sesuai dengan minat dan bakat yang mereka miliki.

Related posts

Leave a Comment