OPINI

Membaca Kritis Sebagai  Penangkal Hoak  Karya Moh. Heriyadi

GURU HONORER:

Antara mengabdi dan Penderitaan

Oleh : Dedi Saputra (KPI)

Kiprah guru di dunia pendidikan dalam memajukan bangsa merupakan salah satu unsur yang sangat penting untuk diperhatikan. Karena guru disamping sebagai tenaga pengajar juga sebagai tenaga pendidik yang merupakan garda terdepan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa yang sebagaimana tujuan Negara kita yang tercantum di dalam pembukaan UUD 1945 “ Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, Memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanankan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”.

Dalam pengertian yang lebih sederhana, guru adalah orang yang memberikan sebuah ilmu pengetahuan kepada anak didiknya. Namun dalam perkembangannya guru kini beralih menjadi sebuah profesi yang paling banyak diminati saat ini khususnya guru yang berstatus sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil) karena gaji yang dianggap cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Namun pada realitanya di kehidupan nyata hanya beberapa dari begitu besar jumlah guru yang diangkat menjadi PNS selebihnya adalah guru honorer yang bekerja dengan keras, dengan ikhlas memberikan ilmu yang ia punya walau dibayar dengan honor yang sangat rendah, bahkan untuk kehidupan sehari-haripun tidak cukup. Inilah realitas kehidupan guru yang berstatus honorer hari ini.

Belum lagi mereka yang selama ini mengabdi mengajarkan Ilmu yang mereka punya nun jauh dipelosok negeri yang terkadang mereka untuk mengajar harus mempertaruhkan nyawa karena medan yang dilalui tidaklah mudah. Gaji yang terkadang tidak dibayar dengan tepat waktu, dan banyak lagi peroblematika lainnya yang dihadapi.

Coba kita Flashback  kebelakang pada tahun 2005, yang pada saat itu muncul novel yang best seller luar biasa yang kemudian di film kan pada tahun 2008 yaitu film Laskar Pelangi, karya dari Andrea Hirata ini menceritakan kehidupan di pedalaman pulau Belitung yang kaya akan hasil alam akan tetapi kehidupan masyarakatnya berbalik dari pada apa yang dibayangkan. Selain itu juga kita dapat melihat dari kisah ini bagaimana perjuangan 2 orang guru yang rela mengabdi untuk negeri demi mencerdaskan anak bangsa walau dibayar dengan upah yang tidak layak.

Begitulah sedikit gambaran guru kita hari ini, khususnya guru honorer  yang mereka rela menderita demi mengabdi pada ibu pertiwi namun bagaimana kah respon pemerintah akan hal tersebut. Pemerintah seakan menutup mata akan kesejahteraan guru honorer. UU yang adapun belum bisa memberi kepastian kesejahteraan pada guru honorer apalagi sejak diberlakukannya UU No.30 tahun 2014 yang diberlakukan kembali pada tahun 2016, imbas dari diberlakukannya UU tersebut adalah guru honorer.

Sebagai pengajar, pendidik mereka para guru honorer pasti telah merdeka, dalam artian telah mengimplikasikan konsep baru dalam pendidikan yaitu “Merdeka Belajar” yang dicanangkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yaitu Nadiem Makarim. Namun untuk status dan kesejahteraan sampai hari ini guru honorer belum merasakan yang namanya merdeka dan itulah realita yang ada hari ini. Belum lagi ditengah pengajaran tak sedikit guru honorer yang dituntut oleh orang tua murid hanya karena anaknya dipukul sedikit atau dihukum sedikit, miris dengan gaji yang tak cukup untuk kehidupan namun menanggung tanggung jawab yang luar biasa itulah pilihan guru honorer mengabdi dan menderita.

Padahal perann guru luar biasa dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, pada saat Hiroshima dan Nagasaki di bom atom oleh sekutu, yang membuat jepang luluh lantak yang pertama kali ditanya oleh Kaisar Jepang pada saat itu berapa guru yang masih ada, karena dia tau dengan guru-guru itulah negaranya dapat bangkit dari keterpurukan. Dan hari ini kita lihat bagaimana negara jepang maju dengan berbagai teknologi yang dimilikinya.

Di Satu sisi menjadi guru adalah hal yang mulia dan membanggakan karena guru adalah pahlwan tanpa tanda jasa namun disisi lain menjadi guru khususnya yang statusnya belum jelas yaitu honorer adalaha penderitaan, itulah yang dihadapi guru kita hari ini. Padahal dari merekalah lahir para ilmuan, para cendikiawan yang dari para orang-orang hebat tersebut dapat membawa bangsa kita menjadi bangsa yang maju dan berpendidikan.

Kalau dihitung dari  materi yang dikeluarkan dari guru-guru honorer khususnya pada saat mereka sekolah kemudian lanjut kuliah dengan biaya yang begitu mahal, namun pada saat mereka sudah terjun kemasyarakat, mengaplikasiakan ilmu yang mereka punya, yang mereka dapatkan hanyalah pengabdian dan penderitaan jauh dari kata sejahtera. Mereka para guru mengajarkan pada kita bahwa begitulah pengabdian harus ada yang di korbankan.

Mereka rela berkorban dan mengajarkan tanpa pamrih memberikan ilmu yang mereka punya dengan semangat agar dapat mencerdaskan kehidupan bangsa yang merupakan amanat Undang-undang. Mereka mengaplikasiakan apa yang dikatan oleh pahlawan kita dahulu “Leiden is Lijden” Memimpin berarti menderita dan itulah yang mereka rasakan penderitaan demi masa depan bangsa yang lebih baik.

Terima kasih kami ucapkan kepada seluruh guru yang ada di Indonesia, yang telah rela dengan ikhlas memberikan Ilmu yang mereka punya, menjadi suluh ditengah kegelapan dan menjadi setetes embun ditengah gurun pasir yang tandus. Mereka rela menjadikan anak didiknya menjadi lebih hebat, lebih cerdan dan bahkan lebih sejahtera kehidupannya darinya. Maka dari pada itu mari bersama hargai perjuangan mereka, khususnya pemerintah untuk bisa memperhatikan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia khususnya guru honorer, yang merupakan garda terdepan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.